Aku masih ingat dulu Phaethon, si insinyur yang selalu menukar kalkulasi rangkaian listrik dengan aroma biji kopi yang ia seduh pakai V60, sambil mengangguk-angguk mengikuti riff gitar indie di sudut kafe Makassar. Pada 2013, ia menapaki langkah pertama menulis, memadukan logika teknik dengan kelakar santainya, sehingga tiap kata terasa seperti rangkaian kode yang berdansa di atas halaman. Sekarang, setiap kali ada yang menanyakan tentang novel atau racikan kopi, ia menjawab dengan senyum lebar, seolah mengundang kita untuk duduk, menyeruput, dan mendengarkan alunan musik yang mengiringi tiap bab kehidupan.

Terbaru