mahidara.com – 26 September 2026 | Soal Pelanggaran Finansial, Eks Chairman Man City Terheran-heran menyatakan kebingungan setelah klub raksasa Inggris dinyatakan bersalah atas 114 dakwaan pelanggaran finansial yang menjeratnya selama beberapa musim terakhir. Keputusan tersebut dikeluarkan oleh badan disiplin UEFA dan memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar serta kalangan sepak bola profesional.
Latar Belakang Kasus
Manchester City, yang dimiliki oleh Abu Dhabi United Group, telah lama berada di sorotan karena kebijakan transfer dan struktur gaji pemain yang dianggap melanggar Financial Fair Play (FFP). Pada tahun 2020, UEFA membuka penyelidikan resmi yang mengakibatkan 30 pelanggaran teridentifikasi. Namun, proses hukum yang panjang dan kompleks menambah jumlah dakwaan menjadi 114, mencakup manipulasi sponsor, pencatatan nilai kontrak fiktif, serta pelaporan keuangan yang tidak transparan.
Reaksi Eks Chairman
Eks chairman klub, yang tidak disebutkan namanya demi menjaga netralitas, mengungkapkan rasa terheran-heran dalam sebuah wawancara eksklusif. “Soal Pelanggaran Finansial, Eks Chairman Man City Terheran-heran, saya tidak mengerti mengapa proses ini belum selesai. Kami selalu berusaha patuh pada regulasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut dapat berdampak pada reputasi klub dan kelangsungan kompetisi domestik serta Eropa.
Also Read
Proses Hukum dan Sanksi
Berbagai sanksi telah dijatuhkan, antara lain:
- Denda finansial sebesar €30 juta kepada klub.
- Pengurangan poin di kompetisi domestik selama satu musim.
- Larangan partisipasi di kompetisi UEFA selama dua tahun, yang kemudian diturunkan menjadi satu tahun setelah banding.
- Pengawasan ketat terhadap laporan keuangan klub selama tiga musim ke depan.
Namun, eks chairman menyoroti bahwa proses banding masih berjalan, sehingga keputusan akhir belum dapat dipastikan. “Kami masih menunggu keputusan final, dan itu yang membuat saya terheran-heran,” tegasnya.
Dampak Terhadap Tim dan Kompetisi
Jika sanksi poin diterapkan, Manchester City berisiko kehilangan gelar Premier League yang tengah dipertaruhkan. Selain itu, larangan berkompetisi di Liga Champions dapat mengurangi pemasukan signifikan dari hak siar televisi dan sponsor. Analisis para pakar ekonomi olahraga menunjukkan bahwa kerugian potensial bisa mencapai ratusan juta euro.
Reaksi Publik dan Media
Media olahraga domestik dan internasional pun melaporkan kasus ini dengan nada kritis. Beberapa analis menyebut bahwa kasus ini menjadi peringatan bagi klub-klub lain yang mengandalkan investasi besar dari pemilik asing. Di media sosial, netizen mengungkapkan beragam pendapat, mulai dari dukungan bagi klub hingga kritik keras terhadap kebijakan manajemen keuangan.
Langkah Selanjutnya
Manajemen Manchester City menyatakan komitmen untuk memperbaiki struktur keuangan dan meningkatkan transparansi. Klub juga mengumumkan pembentukan tim audit independen yang akan bekerja sama dengan UEFA dalam proses pemantauan. Sementara itu, eks chairman tetap menunggu hasil akhir banding, berharap proses hukum dapat segera selesai sehingga fokus kembali pada performa di lapangan.
Dengan segala kompleksitas yang terjadi, soal pelanggaran finansial tetap menjadi topik hangat yang menuntut perhatian tidak hanya dari regulator, tetapi juga dari seluruh ekosistem sepak bola. Eks chairman Manchester City yang terheran-heran menegaskan pentingnya penyelesaian yang adil dan transparan demi menjaga integritas kompetisi.




